BELITUNG, aksarapradiva.com – Setiap tanggal 29 Juli, Pemerintah Desa (Pemdes) Pulau Seliu melalui panitia pelaksana menggelar perayaan momen peringatan Hari Jadi Seliu (HJS) setiap tahunnya. Dan di tahun 2024 ini perayaan tersebut digelar untuk memperingati HJS ke-128 tahun. Acara seremoni peringatan tersebut merupakan yang ketiga kalinya digelar sejak tahun 2022 silam.
Penetapan HJS sehingga saat ini Desa Pulau Seliu sudah berusia 128 tahun tersebut, berdasarkan kajian data dan sejarah yang dilakukan oleh Tim Perumus yang terdiri dari unsur pemerhati sejarah Belitong, pemerhati budaya Belitong, akademisi, jurnalis, politisi, serta tokoh masyarakat Pulau Seliu yang berada di Tanjungpandan.
Hasil kajian Tim Perumus tersebut kemudian dibahas bersama Pemdes Pulau Seliu di dalam rapat desa pada tanggal 20 November 2021. Dalam rapat desa tersebut, Tim Perumus memberikan rekomendasi berdasarkan kajian data dan sejarah, untuk menetapkan HJS yang selanjutnya akan diperingati pada setiap tahun.
- BACA JUGA: Berbagai Lomba dan Pagelaran Ini Akan Meriahkan Peringatan Hari Jadi ke-128 Tahun Desa Pulau Seliu
Ketua Tim Perumus, H. Hasimi Usman mengatakan, rekomendasi penetapan HJS yang disampaikan kepada Pemdes Pulau Seliu tersebut, berdasarkan kajian data dan sejarah yang menyatakan Pulau Seliu pertama kali mengenal sistem administrasi dan kekuasaan, yang diakui oleh otoritas pada masa itu.
Pulau Seliu sudah mengenal administrasi dan kekuasan tersebut dibuktikan dengan penunjukan dan pengangkatan K.A H. Mahmoed Bin K.A Ali Bin K.A Koejoer Bin K.A Tining Bin Datuk Ahmad (Datuk Mempawah) sebagai Mandor Seliu pertama, oleh Pemerintah Hindia Belanda di Pangkalpinang pada tahun 1896 berdasarkan Besi A.R. van Belliton no. 13e.
“Ini yang menjadi dasar untuk kami rekomendasikan, adanya bukti tentang pengangkatan Mandor Mahmoed sebagai Mandor Seliu yang pertama. Artinya pada masa itu, sudah ada sistem pemerintahan di Seliu. Mandor ini sejenis Kepala Kampong yang selanjutnya berubah menjadi lurah dan sekarang disebut Kepala Desa”, kata Hasimi mengawali ceritanya, Jum’at (26/07/2024).
- BACA JUGA: Dalam Rangka Hari Bakti TNI AU, Koopsudnas dan Lanud Hanandjoeddin Gelar Bakti Sosial di Belitung
Berdasarkan silsilah tersebut, Mandor Mahmoed merupakan garis keturunan dari Datuk Ahmad yang berasal dari Mempawah, seorang ulama penyebar Agama Islam dari Pontianak. Datuk Ahmad yang dikenal dengan nama Datuk Mempawah ini, pada tahun 1700-1740 diangkat oleh Raja Balok Depati Cakradiningrat IV K.A Bastam, sebagai Ngabehi Belantu, termasuk membawahi Pulau Seliu.
“Keturunan Datuk Ahmad atau Datuk Mempawah yang berkembang di Pulau Seliu ini adaalah keturunan dari K.A Koejoer. Keturunan beliau ini pada masa itu sangat berpengaruh di Pulau Seliu karena menguasai banyak lahan dan memiliki rumah-rumah besar”, tutur Hasimi.
Pengangkatan Mahmoed sebagai mandor pertama tersebut menjadi tonggak awal sejarah, mengenai adanya orang yang berkuasa atau penguasa di Pulau Seliu. Dengan demikian sejak tahun 1896, Pulau Seliu sudah mengenal adanya sistem administrasi pemerintahan dan kekuasaan.
Setelah disepakati tahun pengangkatan Mandor Mahmoed, lalu Tim Perumus juga memberikan rekomendasi dalam penetapan tanggal hari jadinya. Hal ini mengingat data pengangkatan Mandor Mahmoed hanya menyebutkan tahunnya saja, berdasarkan Besi A.R. van Belliton no. 13e.
Sahabat ...
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online www.aksarapradiva.com, update informasinya juga selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook dan Instagram ...
Kami juga memiliki Channel Youtube, Tiktok, untuk menyajikan informasi dalam format visual ...
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website media kami …








