Kebangkitan Nasional dalam Tasawuf Kebangsaan

Oleh : Guntung Sukarna
(Pemerhati Geopolitik, Budaya dan Seni)

KEBANGKITAN nasional yang setiap tahun kita rayakan tidak ubah seperti hari raya nasional lainnya. Seharusnya ritual-ritual kebangsaan ini menjadi semangat dalam mengembalikan nyawa kebatinan rakyat dalam keterpurukan segala bentuk, sifat dan perilaku, yang dimana dekadensi moral dan terlebih dekadensi ruh dalam hidup umat beragama, berbangsa dan bernegara. Namun sayangnya sudah sangat menipis di dalam relung jiwa para generasi penerus bangsa terutama para pemangku jabatan.

Mereka hidup hanya sebatas ritual seremonial semata tanpa ada gerakan nyata sesudahnya, memaknai dengan jiwa kebangsaan yang terlahir dari rahim para pejuang dan pemikir ulung bangsa yang berdaulat. Padahal esensi sejati dari kebangkitan nasional bukan hanya mengenang masa lalu, dimana para pejuang mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme, tetapi untuk menyulut api kesadaran kolektif saat ini yang mulai redup.

Kebangkitan sejati harusnya lahir dari dalam diri dengan keberanian untuk berpikir merdeka, merasa merdeka dan bertindak untuk kemashalatan bersama dalam segala aspek kehidupan yang majemuk dalam kerangka-kerangka Pancasila sebagai falsafah dan bisa menjadi jembatan berinteraksi dalam kehidupan sosial majemuk, bahkan bisa menjadi cara bangsa kita untuk berinteraksi dengan dunia yang hegemoni semakin kompleks.

Jika itu hanya sebatas slogan tanpa ada gerakan nurani dan perubahan cara hidup, maka peringatan itu hanya topeng tahunan. Maka sudah saatnya kebangkitan nasional di kembalikan ke akar spiritualitas dan kemanusiaan. Karena kita memahami bahwa kita adalah umat-Nya yang terlahir untuk saling memberikan rahman dan rahim agar harmonis dan selaras dalam langkah hidup berbangsa dan bernegara agar semakin kuat. Bukan soal siapa yang berkuasa, tapi siapa tersadar dan mau bangkit bersama dari dalam.

Kita Bangsa Indonesia mempunyai modal jiwa kebangsaan yang tidak dimiliki oleh bangsa dan negara manapun, dialah Pancasila sebagai jalan tengah atau poros jiwa dalam memadukan kemajemukan dalam hamparan daratan dan lautan yang terlahir untuk kita jaga dengan semangat jiwa nasionalis. Daratan dan lautan adalah ruh semesta yang mereka hidup dan bisa menghidupkan tanpa kita minta dan walau sering kali kita merusak dan tidak menjaganya dan akhirnya mengakibatkan murka sang pemberi Rahmat.

Kebangkitan nasional bukan hanya sejarah yang ditulis dengan tinta emas di atas kain usang yang berlumuran darah para pejuang, akan tetapi itu adalah gerak batin kolektif para pejuang terdahulu untuk menjadikan Indonesia sebagai taman jiwa. Dimana manusia bisa hidup berdampingan dalam cahaya dan keadilan.

Pancasila sebagai jalan tengah antara ruh dan perwujudan manusia Indonesia, sebagaimana sila pertama adalah ruh atau akar bangsa yang bertuhan. Sejatinya kebangkitan nasional tidak bisa dipisahkan dari kesadaran Illahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa pondasi itu kebangkitan akan menjadi kebisingan duniawi tanpa makna dalam wujud, kebangkitan/awakening lahir dari pengakuan akan Tuhan yang menciptakan manusia-manusia yang sadar diri, rendah hati dan hidup berorientasi pada kebaikan semesta.

Untuk kita sadari bahwa kebangkitan tanpa mengenal Tuhan hanyalah ego yang sedang mencari panggung, maka bisa jadi kita katakan sila pertama dalam esensi kebangkitan nasional kali ini adalah ruh dari ruh kebangkitan. Setiap ruh dan jiwa akan menuju akhir, dia tidak akan bersemayam selamanya, tidak akan melekat jika kita bisa membuang warisan feodalisme yang saat ini masih menjadi sifat dan tabiat yang masih menjadi pola pikir dan tingkah laku. Itu bukan warisan untuk kita dari para pejuang adalah semangat jiwa nasionalisme kebangsaan yang lahir dari embrio dasa sila. Sedangkan tujuan akhir dari semangat kebangsaan ini bukan hanya materi tapi keadilan spiritual, keadilan informasi, keadilan dalam kesempatan tumbuh sebagai manusia.

Bangkitnya bangsa harus mewujudkan sistem sosial yang adil, melindungi yang lemah, menghormati keanekaragaman sosial dan meruntuhkan dominasi yang menindas. Inilah tujuan dalam perwujudan sila kelima dalam konteks kebangkitan nasional yang kita miliki. Jika sila pertama adalah akar maka sila kelima adalah buah dari pohon kebangkitan (Pancasila).

Hubungan kebangkitan nasional dengan dasa sila yang menjadi pedoman kita hidup berbangsa dan bernegara sangat erat, antara sila pertama sebagai ruh/akar, sila kelima adalah buah dari pohon kebangkitan. Sedangkan sila kedua, ketiga dan keempat adalah jembatan ruhani dan sosial yang menghubungkan antara sila pertama dan kelima. Kemanusiaan yang adil dan beradab, tanpa keberadaban maka kebangkitan akan berubah menjadi kerakusan, tanpa keadilan kebangkitan hanya akan melahirkan tirani baru. Kebangkitan sejati harus memanusiakan manusia.

Dalam konteks sejarah, kebangkitan nasional lahir di saat kesadaran kolektif melihat bahwa bangsa ini telah terlalu dalam diinjak dan tidak diperlakukan sebagai manusia yang berdaulat atas buminya yang diberikan sang pemilik semesta. Kemanusiaan yang adil dan beradab lebih menekankan martabat kemanusiaan sebagai inti dari setiap perjuangan baik sejarah masa lalu maupun sejarah yang akan kita tulis nanti ke depannya sebagai nubbuat yang hakiki.

Adil dan beradab adalah dua sayap/dahan/ranting pohon kebangkitan agar kita sebagai bangsa tidak terjebak dalam kebrutalan meskipun sedang tumbuh dalam peperangan ideologi. Persatuan Indonesia akan terwujud jika keadilan itu di wujudkan dan kebangkitan itu terwujud jika keadilan demi persatuan itu ditunaikan, bukan dirampas demi kepentingan individu ataupun kelompok. Kebangkitan butuh rumah dan rumah itu adalah rasa kebangsaan.

Untuk kita ketahui persatuan bukan menyeragamkan akan segala perbedaan, akan tetapi itu adalah keharmonisan dan kekayaan yang kita miliki, yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, yang diwujudkan dalam Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, yang menjadikan penyatuan antar golongan, agama, suku dan latar belakang demi tekad untuk membebaskan diri dari penjajahan. Persatuan adalah bentuk cinta tanah air yang tidak dibatasi oleh identitas, melainkan rasa sepenanggungan atas penjajahan, baik yang terlihat atau yang tidak terlihat.

Dan yang terakhir adalah gerak kebangkitan bukan dengan kekerasan, akan tetapi dengan hikmah sejarah lampau dan musyawarah. Transformasi dari kerakyatan yang dipimpin oleh kesadaran dan kebijaksanaan dalam setiap mengambil keputusan untuk hajat hidup orang banyak, mengajarkan kita bahwa suara rakyat bukan hanya sekedar suara mayoritas, akan tetapi harus dituntun dengan kebijaksanaan yang lahir dari kesadaran terdahulu, maka tidak akan ada anarki dalam setiap pengambilan keputusan. Dalam kesadaran berkelompok, dalam hidup berbangsa dan bernegara akan memberikan hikmah kebijaksanaan. Dan itu adalah resonansi dari sila pertama yang menciptakan keselarasan antara hati, akal dan ruh dalam rangka mewujudkan kebangkitan nasional yang melahirkan “Manusia Merdeka” (***)


Sahabat ...
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online www.aksarapradiva.com, update informasinya juga selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook dan Instagram ...

Kami juga memiliki Channel Youtube, Tiktok, untuk menyajikan informasi dalam format visual ...
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website media kami …