SEBUAH karya kembali dipersembahkan oleh pujangga lokal Belitong dalam momen peringatan Hari Jadi ke-128 Desa Pulau Seliu tahun 2024. Persembahan tersebut diberikan Yudhie Guszara melalui karya puisinya yang berjudul ‘Lelaki Pesisir Itu Bernama Edyar Maning’
Karya Sastra
Sekuntum Mawar Merah di Genggaman Umak
Senja itu langit Pulau Belitong mulai memerah saga, satu dua Kalong liar beterbangan mengitari langit yang mulai meredup, dan matahari perlahan-lahan menenggelamkan diri bersimpuh di balik ujung samudera
Senja Ramadan Di Negeri Lampion | Karya : Yudhie Guszara
SAHABAT pembaca, kembali redaksi sajikan sebuah puisi berjudul Senja Ramadhan di Negeri Lampion, sebuah karya dari seorang pujangga bernama Yudhie Guszara
Bidadari Danau Purun Itu Bernama Seliu | Karya : Yudhie Guszara
pradivanews.com – BIDADARI Danau Purun Itu Bernama Seliu, sebuah puisi karya Yudhie Guszara yang dipersembahkannya untuk Hari Jadi Desa Pulau Selengkapnya…
Negeri | Karya : Yary
Melalui untaian kata-kata yang dirangkai dalam bait-bait kalimat dalam puisinya ini, sepertinya penulis berupaya mengungkap isi hatinya atas apa yang terjadi di kampung halamannya
Jiwa Nan Angkuh | Karya : Yary
Melalui puisi ini sepertinya si penulis ingin mengungkap isi hatinya tentang kehidupan yang dijalani. Hal ini terlihat dengan penggunaan kata-kata pada pusi yang berjudul Jiwa Nan Angkuh ini.
Part 21 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins
Sepasang remaja menyusuri pantai, langkah kaki keduanya tampak jelas di sepanjang pantai yang bertabur pasir putih. Ada jejak yang sudah menghilang karena tersapu ombak yang mengalun lembut
Langit Sidratul Muntaha | Karya : Yudhie Guszara
Puisi berjudul Langit Sidratul Muntaha ini bernuansa religi yang erat kaitannya dengan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, menghadap Allah SWT yang disebut dengan Isra’ dan Mi’raj.
Part 20 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins
“Sebile datang Kak?” tanya Ratih, tetangga depan rumah mereka. Wanita itu tampak membawa ikan di dalam kantong kresek putih
Part 19 : Mimpi Anak Pulau | By Nelly Kartins
Bersama surat ini, Ayah kirim sedikit uang. Semoga bisa diterima, walau jumlahnya tidak seberapa.
Sekali lagi maafkan Ayah
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.



















