BELITUNG TIMUR, aksarapradiva.com – Sebuah film dengan judul The Bell ‘Panggilan Untuk Mati’, digaraf oleh rumah produksi bernama Sinemarta Buana Kresindo dengan mengambil lokasi syuting di Kabupaten Belitung Timur (Beltim).
Ada beberapa tempat yang menjadi lokasi syuting film bernuansa horor dengan mengangkat kearifan lokal di Pulau Belitong ini seperti di Bukit Samak Kecamatan Manggar, dan Kecamatan Gantung, serta beberapa lokasi lainnya.
Sutradara film The Bell ‘Panggilan Untuk Mati’ Aris Muda kepada Diskominfo SP Beltim mengungkapkan, shooting pada hari pertama hingga hari ketujuh dilaksanakan di salah satu rumah yang ada di kawasan Bukit Samak Manggar, yang menjadi lokasi utama dari film tersebut.
- BACA JUGA: Sebanyak 150 Anggota Gabungan Dikerahkan Untuk Pengamanan Pendaftaran Paslon di Kantor KPU Beltim
“Pemilihan lokasi di Belitong ini dikarenakan terbilang lengkap, banyak titik-titik tertentu di Belitong ini yang khas. Kalau rumah tua di lokasi lain banyak, dimana ada rumah yang beratap seng, kontur tanahnya, ada pantainya, Belitong yang punya kekhasan itu”, ungkap Aris kepada Diskominfo SP Beltim.
Dikatakan Aris, film berjudul The Bell tersebut diangkat dari singkatan ‘Belitong’ yang menceritakan tentang ‘Urban Legend’ lokal yakni ‘Hantu Penebok’ yang berlatar belakang era tahun 1900 awal. Menurutnya, semangat yang ingin diangkat melalui film tersebut yakni keinginan untuk menghidupkan kearifan lokal di Pulau Belitong, termasuk kisah misteri hingga potensi wisatanya.
“Tidak hanya mengangkat tema horor, tapi juga mengangkat kelebihan yang ada di Pulau Belitong, termasuk diantaranya tambang pasir, timah. Cerita ini bermula dari sana, yakni ketika tambang timah zaman kolonial dimana menjadi lokasi matinya hantu penebok”, sebut Aris.
Beberapa artis terlibat dalam film ini, diantaranya Ratu Sofya, Shalom Razade, Givina, Bhisma Mulia, dan lain sebagainya. Bahkan, artis lawas Septian Dwicahyo dan Rendy Ahmad, pemeran Arai di film Sang Pemimpi juga terlihat berada di lokasi syuting.
“Komposisi pemain sih sudah lengkap, kami juga mengajak pemeran dari Belitong yakni Pak Sanem (Sahani Saleh). Produser dan eksekutif produsernya orang Belitong. Dari 67 orang kru yang terlibat itu, 35 persennya orang Belitong”, jelas Aris.
Hal senada juga disampaikan Produser berdarah Belitung Timur (Beltim) Beny Gunawan, yang mengatakan, proses pembuatan film The Bell yang akan berlangsung selama 16 hari tersebut melibatkan orang-orang lokal Belitong.
“Kebetulan Eksekutif Produser kita Pak Budi, juga orang Belitung Timur yakni orang Gantung, sebagai putra daerah beliau merasa dulu Belitong naik karena Film Laskar Pelangi, karena itu sudah cukup lama, kita perlu ada pembaruan yang bisa kita jual ke publik yakni Belitong itu sendiri”, tutur Beny.
Beny berharap melalui film yang berjudul The Bell ‘Panggilan Untuk Mati’ ini dapat menjadi ikon baru bagi Belitong, sehingga ke depannya mampu kembali menarik wisatawan untuk datang berkunjung, khususnya ke Kabupaten Beltim.
“Target kita akhir tahun ini film The Bell sudah bisa bisa ditayangkan, semoga filmnya sukses, bagus dan daerah punya ikon baru lagi”, pungkas Beny. (rel)
Editor : Yudi AB
Sahabat …
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online www.aksarapradiva.com, update informasinya juga selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook dan Instagram …
Kami juga memiliki Channel Youtube, Tiktok, untuk menyajikan informasi dalam format visual …
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website media kami …
Sahabat ...
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online www.aksarapradiva.com, update informasinya juga selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook dan Instagram ...
Kami juga memiliki Channel Youtube, Tiktok, untuk menyajikan informasi dalam format visual ...
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website media kami …




