Sekjen Kemensos Minta Tagana Harus Memperkuat Mitigasi Bencana di Daerah

Dalam kesempatan ini, Salah satu relawan Tagana asal Aceh, Rizal Dinata, mengatakan pencegahan adalah hal yang amat penting untuk menekan angka korban. Menurutnya hal ini sudah dilakukan di daerah asalnya melalui program Kampung Siaga Bencana, Tagana masuk sekolah, dan adanya lumbung sosial. Rizal melihat masyarakat menyambut baik program-program tersebut.

Namun Rizal tidak menampik bahwa pola penanganan yang tepat dan efisien saat terjadi bencana juga merupakan hal yang vital. Seperti yang ia pelajari saat menjalani diklat selama lima hari di Pusdiklat Kesos, yang merupakan proses pembelajaran baru baginya dan rekan Tagana lainnya.

Baca Juga: Belitung Bakal Jadi Tuan Rumah Pertemuan Diplomat Kemenlu Membahas ISPO in American and European Market

“Teman-teman sangat antusias, baru terbuka pikiran saya mengenai dukungan psikososial yang selama ini saya beranggapan adalah tempat bermainnya anak-anak, tempat bermainnya para penyintas. Ternyata bukan hanya itu. Minimal mereka bisa mengamankan diri dan keluarga saat bencana terjadi, sehingga angka korban bisa ditekan”, ujar Rizal yang sudah menjadi Tagana sejak 2009 ini.

Senada dengan Rizal, Yovita Nahak (Vita) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) menuturkan pelatihan ini mampu memperbaharui perspektifnya mengenai penanganan bencana, khususnya bidang shelter. Dimana sebelumnya ia beranggapan bahwa shelter hanya sebatas tenda yang dibangun sebagai tempat penampungan sementara bagi pengungsi, namun setelah mengikuti diklat, Vita dapat mengetahui bahwa shelter bukan hanya sebatas tenda melainkan ada proses yang berjalan di dalamnya.

Baca Juga: Dandim 0414 Belitung Ingatkan 7 Perintah Harian Kasad TNI AD

Vita menambahkan bahwa di dalam prosesnya, bidang shelter, terdapat beberapa hal yang perlu dikaji, seperti pendataan yang akurat dalam pengungsian, khususnya terhadap kelompok rentan yang harus menjadi prioritas seperti disabilitas, lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Kemudian hal lain yang membuat Vita terkesan adalah adanya simulasi dalam proses pembelajaran. Dalam simulasi ini, para peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam membangun shelter yang edukatif dan mampu memenuhi kebutuhan penyintas akan rasa aman dan terlindungi.

“Selama ini kita tau bahwa shelter itu cuma bangunan atau sebuah tenda, tetapi setelah kita mendapatkan ilmu di sini, kita tau bahwa shelter itu adalah sebuah proses, bukan produk. Kemudian dalam simulasi, kita juga bisa mendirikan tenda dan membuat sekat-sekat, serta fasilitas khusus untuk pengungsi prioritas sehingga penyintas merasa aman dan terlindungi”, pungkas Vita. (***)

Baca Juga: Ini Data Rumah Warga Desa Pulau Gersik Yang Terdampak Gelombang Pasang


Sahabat, ikutin terus perkembangan informasi yang disajikan media online pradivanews.com, dan jangan lupa untuk meng-klik tombol suka dan mengikuti Pradiva News di Fanpage Facebook agar sahabat tidak ketinggalan informasi yang baru saja kami update …

Caranya mudah, dengan sahabat meng-klik link Fanpage Facebook berwarna hijau ini, maka sahabat akan masuk ke halaman Fanpagenya Pradiva News di Facebook …

Kami juga memiliki Channel Youtube, untuk melihatnya sahabat bisa meng-kliknya langsung .. Maka sahabat akan masuk ke channel group kami yang menyajikan informasi dalam format visual .. Trusss, jangan lupa like dan subscribe yaaa …

Yuuk sahabat klik sekarang juga …


Sahabat ...
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online www.aksarapradiva.com, update informasinya juga selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook dan Instagram ...

Kami juga memiliki Channel Youtube, Tiktok, untuk menyajikan informasi dalam format visual ...
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website media kami …