“Umak….. Umak harus berobat dan dioperasi ya, umak harus kuat dan sehat kembali”, Pipit mencoba memberikan semangat untuk Ibunya agar mau menjalani tindakan medis dioperasi.
“Pipit, Umak takut Nak… Umak takut, anak-anak Umak masih kecil-kecil”
Pipit perlahan memegang tangan Ibunya “Mak ….. Umak janganlah berpikir yang bukan-bukan, Umak harus lebih sabar menjalani ini Mak !”, akhirnya Pipit memeluk tubuh Ibunya.
Mereka larut dalam kesedihan, menangis sejadi-jadinya, dan Pipit pun mengusap air matanya dan mencium kening Ibunya tercinta.
Pagi-pagi sekali Pipit sudah bangun menyiapkan pakaian sekolah dan makan pagi untuk kedua adiknya. Hari ini Pipit tidak masuk sekolah karena ada hal yang harus diselesaikannya, yaitu menelepon Ayahnya yang sedang bekerja di Irian Jaya. Setelah mengantarkan adiknya sekolah, Pipit segera menuju ke Kantor Telkom untuk menuju ke Warung Telekomunikasi (Wartel), karena pada waktu itu alat komunikasi Hand Phone belum sepopuler sekarang. Pipit segera masuk ke ruang Wartel dan menutup pintu yang terbuat dari kaca bening, angka-angka mulai ditekan dan diam sesaat sambil menunggu jawaban dari Ayahnya.
“Hallo…. hallo Yah….. Ayah, Assalamu’alaikum Yah!”
“Wa’alaikum salam, Hallo ini siapa ?”
“Ayah….. ini Pipit Yah…. Pipit anakmu Yah !”
“Oh Pipit…. iya ada apa Nak, Ada apa ?”
“Yah …. Umak Yah, Umak sakit Yah “
“Apaaa….. Umak sakit, sakit apa Pit ?”
“Ayah, sebelumnya Pipit minta maaf, kami sengaja merahasiakan ini sejak satu tahun yang lalu, kami takut Ayah jadi pikiran dan tidak tenang di sana”
“Iya … iya Pit… Ayah maklum, tapi tolong katakan Umak sakit apa Pit?”
“Yah… maaf ya Yah, Umak dinyatakan mengidap sakit Kanker Payudara dan harus di opersi di rumah sakit di Jakarta…. Yah !”
“Apaaa….Ya Allah Astagfirullah Hal’adzim ..”
Beberapa saat suara Ayah tidak terdengar, tapi Pipit dapat merasakan bahwa Ayahnya sangat terpukul dengan berita yang baru saja diterimanya, suara tangis Ayahpun terdengar perlahan seolah-olah suara tangis Ayah sengaja dijauhkan dari gagang telpon agar tidak terdengar oleh Anaknya.
“Baiklah Pit…. secepatnya kamu urus surat rujukan untuk ke rumah sakit Jakarta, dan carilah seorang yang bisa menemani Umak nanti selama di perjalanan dan selama menjalani proses operasi di Jakarta”
“Baiklah Yah….. besok aku akan segera menguru surat rujukan dan mencari seorang yang dapat menemani Umak, baiklah Yah sudah dulu ya Yah, Assalamu’alaikum !”
“Iya Pit hati-hati ya, jaga Umakmu…. Wa’alaikum salam!”
Pipit pun menutup pembicaraan dan meletakkan gagang telepon, selesai membayar tagihan biaya telepon, ia segera pulang.
Tepat tahun 2003, pagi-pagi sekali Pipit, Andri dan Rina sudah rapih dengan pakaian terbaik mereka, karena hari ini mereka bertiga akan mengantar Ibu mereka ke Bandara Buluh Tumbang. Hari ini juga Sekuntum Mawar Merah sudah Pipit siapkan untuk diberikan kepada Ibunya, sebelum diterbangkan ke Jakarta. Ibunya duduk lesu di sebuah kursi roda, dibantu oleh Leni seorang yang disiapkan untuk menemani Ibunya selama masa pengobatan di Jakarta.
Tepat pukul 07.15 WIB, pesawat akan segera terbang tinggal landas. Pipit, Andri dan Rina menghampiri Ibu mereka, Pipit pun segera menyalami dan mencium tangan Ibunya, diciumi juga pipi dan kening Ibunya, tak terasa air mata Pipit pun menetes, membasahi Sekuntum Mawar Merah yang sudah disiapkannya untuk diserahkan kepada Ibunya.
“Umak….. ini bunga Mawar untuk Umak, terimalah ini Umak !” Pipit menangis dan langsung memeluk Ibunya yang tidak dapat berkata-kata lagi, mereka larut begitu dalam, mereka saling mengusap punggung dan bertatapan.
“Pipit…. jagalah Adik-adikumu ya Nak…. do’akan Umak agar sembuh dan sehat kembali, kelak kita berkumpul bersama lagi”, sambil terbata-bata Ibunya mengucapkan kata terakhir itu menjelang keberangkatannya.
Jemari Ibunya begitu kuat memegang bunga Mawar pemberian Pipit, sesekali diciuminya bunga Mawar. Ibunya pun memeluk kedua Adik Pipit yang masih kecil itu, diciumi dan dipeluknya satu persatu. Pipit dan kedua adiknya pun harus mengikhlaskan Ibunya untuk diterbangkan ke Jakarta. Meraka melambaikan tangan ke arah Ibunya, Ibunya pun membalas lambaian tangan dari ketiga anak-anaknya saat menuju tangga pesawat.
Sahabat ...
Ikuti terus perkembangan informasi dari media online www.aksarapradiva.com, update informasinya juga selalu kami sajikan di halaman atau fanpage Facebook dan Instagram ...
Kami juga memiliki Channel Youtube, Tiktok, untuk menyajikan informasi dalam format visual ...
Terima kasih kepada sahabat semua, yang sudah bersedia mengunjungi website media kami …







